Mengenai Saya

Foto saya
Kesempurnaan itu hanya miik-Nya,sepanjang kita bisa meyakini dan mengartikan kesempurnaan itu dalam hati dan jiwa kita, itulah sebenarnya makna tertinggi kesempurnaan, kesempurnaan tidak lain adalah keikhlasan.

Contact Person

Tampilkan postingan dengan label Perjalanan Wisataku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan Wisataku. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 06, 2009

Erau, tradisi bertajuk wisata Kabupaten Kutai Kartanegara



Erau berawal dari sebuah sejarah, dimana erau digelar sebagai bentuk pesta perayaan ketika terjadi penobatan raja-raja Kutai Kartanegara. Erau juga digelar dalam rangka untuk pemberian gelar dari raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat. Sultan serta kerabat keraton lainnya, memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terimakasih sultan atas pengabdian rakyatnya.

Perayaan acara adat Erau 2009 akan berlangsung mulai tanggal 26 Juli s/d 3 Agustus mendatang, dengan melibatkkan 7 kabupaten/kota se-Kalimantan Timur. Ada beberapa tema erau yang ditawarkan diantaranya, Erau adat tempong tawar 2009 melestarikan adat budaya Kutai menuju Kutai Bangkit. Dengan Erau adat kita dukung visit east borneo 2009, dengan erau kita satukan langkah menuju Kutai Bangkit. Erau adat tepong tawar 7 benua mendukung visit east borneo 2009. Kenali negerimu, cintai negerimu, ayo sukseskan erau adat 2009.

Minggu tanggal 26 Juli 2009, Stadion Madya Kutai Kartanegara Tenggarong Seberang sejak pagi telah dipenuhi sesak pengunjung baik dari masyarakat Kutai Kartanegara sendiri maupun dari luar Kutai Kartanegara, termasuk diriku untuk menyaksikan pembukaan festival erau adat tempong tawar 2009. Banyak acara yang nantinya bisa dilihat dalam acara erau antara lain expo erau, pameran berbagai produk lokal dan lainnya, sampai kepada kegiatan-kegiatan tradisional.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 10.00 WITA, rombongan kerabat keraton beserta para duta besar hadir di dermaga Tenggarong Seberang disambut meriah oleh kerabat keraton dan para tamu VIP termasuk Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak dan wakilnya Farid Wadji, Pj Bupati Kukar H Sjachruddin, Staf Ahli menteri pariwisata dan kebudayaan RI bidang Ekonomi dan Iptek Hj Titin Soekarya, juga bersama para duta besar dan undangan VIP lainya.

Pesta adat Erau 2009 dimulai dengan prosesi adat Mendirikan Ayu yang berlangsung di Keraton Kutai Kartanegara (Kukar) atau Museum Mulawarman Tenggarong yang dilaksanakan di hadapan Sultan Kutai H Adji Mohammad Salehoeddin II itu, beberapa anggota Kerabat Kesultanan bersama tokoh masyarakat serta Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak dan Pj Bupati Kukar H Sjachruddin menegakkan sebuah Ayu yang disebut Sangkoh Piatu. Sangkoh Piatu sendiri merupakan senjata Raja pertama Kutai Kartanegara Aji Batara Agung Dewa Sakti yang pada batangnya dikaitkan Tali Juwita dan kain Cinde, janur kuning, daun sirih dan buah pinang yang dibungkus kain kuning. Tiang Ayu atau Pinang Ayu atau disebut juga Rebak Ayu merupakan lambang kerahayuan. Mendirikan Ayu itu diakhiri dengan pembacaan doa selamat oleh kerabat kesultanan Kutai.

Selama perayaan upacara adat erau, dilaksanakan upacara adat Bepelas di Museum Mulawarman Tenggarong. Minggu malam tanggal 26 Juli 2009 digelar Bepelas pertama. Upacara adat Bepelas bermakna untuk memuja raga dan sukma Sultan HAM Salehoeddin II dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bepelas dimulai setelah Kepala Adat mengatur sembah kepada Sultan untuk memulai kegiatan acara adat malam yang diwujudkan dalam tari-tarian yang saling berhubungan arti dan maknanya.

Tarian tersebut antara lain Dewa Memuja Ayu, yang bermakna menjaga Tiang Ayu dari perbuatan roh jahat, dilanjutkan dengan tarian Dewa Memanah dengan mengelilingi Tiang Ayu bertujuan membersihkan atau mengamankan sekeliling lingkungan baik dibumi maupun di langit.

Kemudian dilaksanakan Tarian Dewa Menurunkan Sangiang Sri Gambuh, Pangeran Sri Ganjur yang bermakna meminta restu kepada yang Maha Kuasa , lalu dilanjutkan dengan tarian Beganjur sambil mengitari Tiang Ayu yang bermakna meronda atau menjaga keamanan. Setelah itu, dilanjutkan dengan Tarian Dewa Memulangkan Ganjur yang bermakna bahwa keadaan sudah aman dan ditandai dengan Dewa dan Belian mulai membacakan memang (mantera) di rebak Ayu, memberitahukan bahwa Bepelas segera dimulai.

Usai beberapa tarian sakral tersebut, maka Dewa, Belian, Penyuling, Damar Jujagat, serta Aji-Aji Perempuan menjemput dan mengatur sembah kepada Sultan dari dalam Keraton, dinamakan dengan Sultan didondang (di sembah) menjelang Bepelas.

Lalu dilakukan puncak ritual, Sultan Kutai berjalan menuju Tiang Ayu sambil berpegangan dengan Kain Cinde di kiri dan Tali Juwita di kanan. Setibanya di depan Tiang Ayu, Sultan Kutai meletakkan kaki kanannnya terlebih dahulu di atas gong. Kemudian, seorang Belian sambil membaca memang (mantera) melakukan Tempong Tawar dengan memercikkan air kembang ke kaki Sultan. Pada saat Sultan menjejakkan kaki kanannya di atas gong itulah suara ledakan menggelegar.

Bunyi ledakan terdengar begitu keras dari arah dermaga depan Keraton Kutai Kartanegara atau Museum Mulawarman. Lalu di ikuti dengan letusan kembang api sekitar lima menit.
Dengan semakin bertambahnya waktu pelaksanaan Erau, semakin bertambah pula suara ledakan yang terdengar. Misalnya malam pertama hanya sekali ledakan, malam kedua ada dua kali ledakan, begitu seterusnya.

Setelah Bepelas dilaksanakan, maka Dewa, Belian Penyuling mengantarkan Sultan kembali kedalam Keraton, lalu dilanjutkan dengan Tarian Dewa Besaong Manok (Tari Dewa Mengadu Ayam), Bekanjar Ketore. Tarian tersebut menggambarkan kegembiraan bahwa Bepelas Sultan telah dilaksanakan, serta ditandai mengambil Air Tuli dari tepian Mahakam.

Sebagai penutup upacara Bepelas itu, maka seorang Dewa dan Penyuling menuju balai di teras depan Museum untuk menggoyak (menggoyang) rendu, lalu ditutup dengan Tari Bekanjar Bini.
Kamis, tanggal 31 Juli 2009, ratusan warga dari berbagai penjuru berderet di sepanjang tepian sungai Jl S Parman antara Jembatan Bongkok sampai dengan Jembatan Besi Tenggarong untuk merasakan bagaimana rasanya mengambil aneka Jaja (Kue) Khas Kutai yang disuguhkan diatas Gubang (perahu) dalam rangka memeriahkan Erau itu. Lima belas Gubang yang membawa jaja dengan dua orang pria dan wanita memakai baju khas masyarakat Kutai tiba di sekitar lokasi kerumunan warga. Gubang merapat, suasana semakin riuh saat masyarakat berteriak-teriak meminta jaja sambil menunjuk kearah Lewang (baki) yang berisi jaja. Bahkan ada yang tak sabar langsung terjun ke sungai untuk mengambil sendiri Jaja tersebut. Dalam sekejap aneka jaja tersebut habis.

Senin tanggal 3 Agustus 2009, Pesta Adat Erau telah berakhir. Penutupan Pesta Adat dan Budaya Erau Kutai Kartanegara (Kukar) ditandai dengan Merebahkan Ayu. Sebelum Merebahkan Ayu diawali dengan prosesi yaitu Mengulur Naga pada hari Minggu tanggal 2 Agustus 2009 yang dirangkai dengan Belimbur (saling siram air). Upacara adat Mengulur Naga tersebut juga dirangkai dengan ritual adat lainnya diantaranya Beumban dan Begorok.
Setelah itu, sepasang Naga dibawa kedermaga depan Museum Mulawarman untuk dibawa ke Kutai Lama. Dalam perjalanannya, Naga tersebut akan disinggahkan di Samarinda Seberang untuk dilakukan prosesi adat Naga Bekenyawa. Belimbur tidak serta merta dilakukan karena masih menunggu Air Tuli yang diambil di Kutai Lama.

Sementara itu setelah Naga dibawa ke Kutai Lama, di Museum dilaksanakan upacara adat Begorok dan Beumban. Lalu setelah Air Tuli tersebut datang, maka Sultan Salehoeddin II turun ke Rangga Titi (tempat duduk yang terbuat dari Bambu) yang ditempatkan di dermaga depan Museum Mulawarman. Pada prosesi di rangga titi itu, Sultan membasuh muka dengan air tersebut, lalu memercikkan air ke orang-orang sekelilingnya tanda belimbur resmi dimulai.
Dimulainya Belimbur juga ditandai dengan bunyi sirine dari Pemadam Kebakaran, baru masyarakat boleh belimbur.

Selain kesakralan prosesi adat erau, Kantor Pengelolaan Pasar Kukar selaku penyelenggara tampilan Kuliner Khas Kutai itu suguhkan berbagai Kuliner khas Kutai, diantaranya Gangan (sayur) labu, Gangan Asam Tulang, Gangan Keladi, Gence Jukut Ruan, Tunu Jukut Nila (ikan bakar Nila), Soto dan Nasi Goreng Kutai,serta aneka pirik cabe (sambal) khas Kota Raja misalnya pirik cabe Kuini dan lain-lain.

Jumat, Juli 24, 2009

Solek Pulau Derawan


Pulau Derawan sebagai Pulau Penyu yang terletak di Kabupaten Berau, Tanjung Redeb Provinsi Kalimantan Timur, menawarkan sejuta pesona bahari yang termasyhur di Provinsi Kalimantan Timur. Keindahan mata memandang akan jernihnya air laut dan pantai pasir putih serta gemerisik angin pantai yang segar siap memanjakan hati dan perasaan kita yang sedang kangen akan keindahan kuasa Ilahi.

Perjalanan ke Pulau Derawan bisa ditempuh dari Kota Samarinda atau dari Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Jika kita memilih berangkat dari Kota Samarinda bisa naik pesawat Trigana Air atau Kalstar (kapasitas penumpang 40 -48 orang) dengan tujuan ke Berau, kurang lebih ditempuh dalam waktu satu jam dengan biaya yang diperlukan sebesar Rp700 ribu - Rp800 ribu. Jika kita memilih berangkat dari Kota Balikpapan, kita harus melalui perjalanan darat terlebih dahulu dari Samarinda menuju Balikpapan selama kurang lebih 2,5 jam dengan biaya sebesar Rp225 ribu - 300 ribu. Kali ini perjalananku bertitik tolak dari Kota Balikpapan. Sambil menikmati pemandangan alam pegunungan, pepohonan yang tinggi menjulang di kanan kiri jalan yang berliku di sepanjang bukit Soeharto sesekali bercanda dengan sang sopir yang kebetulan sudah agak akrab.

2,5 jam sudah perjalanan yang cukup panjang sudah kulalui dan sampailah di Bandara Sepinggan Balikpapan untuk meanjutkan perjalananku menuju Berau. Perjalanan dari Balikpapan ke Berau ditempuh dengan pesawat udara dengan dua pilihan Kalstar atau Batavia Air. Kita cukup merogoh kocek sekitar Rp700 ribu - Rp800 ribu tergantung keramaian penumpang. Kali ini aku memilih naik Kalstar. Perjalanan memerlukan waktu kurang lebih 30 -40 menit.

40 menit terasa cukup lama, apalagi cuaca agak mendung sehingga goncangan pesawat terasa sekali, sampailah saya di Kabupaten Berau. Sesampai di sana waktu sudah menjelang magrib, kuputuskan untuk menginap terlebih dahulu dan melanjutkn perjalanan dikeesokan harinya. Di Berau terdapat sebuah hotel yang cukup terkenal, yaitu Hotel Derawan Indah. Aku memutuskan menginap di hotel tersebut dan mengambil kamar deluxe dengan tarif sekitar Rp800 ribu - Rp1 juta.

Waktu menunjukkan jam 20.00 WITA, perut yang lapar mendorongku untuk keluar mencari makanan kecil dan minuman khas yang cukup terkenal di Berau (meskipun bukan minuman asli dari Berau) yaitu Saraba di pinggir Sungai Segah. Sambil melihat kerlip pantulan cahaya kota Berau pada Sungai Segah, terasa nikmat sambil menyantap makanan kecil dan Saraba. Tak terasa badan mulai kedinginan, kuputuskan untuk kembali ke hotel beristirahat.

Keesokan paginya, ku telepon teman penduduk asli Berau untuk mengantar dan menemaniku ke Pulau derawan. Perjalanan ke Pulau Derawan harus melalui Tanjung Batu terlebih dahulu yang ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 2-2,5 jam dengan biaya carter taksi sekitar Rp250 ribu - 350 ribu. Dari Tanjung Batu kami naik speed menuju Pulau Derawan selama kurang lebih 30 - 45 menit dengan biaya sekitar Rp400 ribu - Rp700 ribu sekai jalan.

Perjalanan menggunakan speed terasa seru sekali, sambil dihempas gelombang-gelombang kecil air laut, muka kami tersapu oleh percikan hempasan speed yang menerjang gelombang. Hujan pun turun membuat perjalanan ini semakin penuh perjuangan. Tak lama kemudian sampailah kami di dermaga pulau Derawan yang eksotis. Meskipun terasa panas, namun keindahan dan rasa penasaran untuk melihat lebih jauh Pulau Derawan menghilangkan panasnya mentari yang menyengat kulit kami.


Sambil merencanakan untuk menyelesaikan beberapa agenda wisata kami, kami booking Cottage Derawan Beach. Cottage tersebut menawarkan kamar yang cukup nyaman karena dilengkapi dengan AC dan terlihat bersih ruangannya serta menghadap langsung ke pantai. Biaya menginap sehari sekitar Rp750 ribu - Rp1 juta. Sambil menunggu matahari berjalan menuju tempat peraduannya di ufuk barat, kami beristirahat sejenak untuk menghilangkn rasa capek perjalanan yang agak panjang tadi.


Pantai Ala Pulau Penyu?
Waktu telah menunjukkan pukul 17.00 WITA, kami bergegas berjalan untuk menikmati keindahan pantai pasir putih yang membentang mengelilingi Pulau Derawan. Berjalan mengelilingi tempat penginapan yang langsung berbatasan dengan pantai sesekali bermain dengan pasir putih tempat penyu biasanya bertelur. Meskipun dikelilingi dengan laut, namun keunikan Pulau Derawan adalah airnya tawar, sehingga banyak penduduk yang bermukim di Pulau tersebut. Kami berdua merasa seperti makhluk kecil yang berada di tengah pulau terapung jika dilihat dari udara.


Pertengahan jalan kami menjumpai penduduk Pulau Derawan yang sedang bersantai-santai sambil sesekali melihat ketepian pantai. Ku coba mendekati, dan bertanya apa yang sedang dilakukannya. Ternyata dia sedang menunggu seekor penyu. Kami juga penasaran, ingin mengerti seperti apakah penyu khas dari Pulau Derawan. Perlu waktu sekitar 30 menit untuk menunggu kemunculan penyu tersebut, dan akhirnya apa yang ditunggu muncul juga. Untuk menambah kepuasan hati, kami meminta orang tersebut menangkap penyu yang sedang berenang. Dia menyanggupinya dan berusaha menangkap dengan susah payah dan akhirnya tertanggkap juga. Kami tidak meninggalkan momen tersebut untuk berfoto-foto bersama sang penyu. setelah puas kami melanjutkan perjalanan menuju dermaga untuk melihat matahari terbenam.

Sunset ala Pulau Derawan?

Sesampainya di dermaga yang menjorok ke tengah laut, terlihat sangat indah dan terasa sangat segar dengan pemandangan pulau derawan berkalungkan pasir putih serta keelokan matahari membenamkan diri diufuk barat. Rona kemerahan terlihat semburat di langit setia menemani cahaya matahari yang mulai redup menandakan hari akan berganti gelap. Perlahan dan pasti keindahan cahaya matahari mulai tertutup dengan awan-awan kecil sambil mengantar sang mentari kembali ke peraduannya. Kami tak berhenti terheran-heran melihat keindahan Kuasa Ilahi. Ternyata di Pulau terpencil ini masih menyisakan pemandangan yang sangat agung dan elok.

Kerapu Saos Tiram?
Malam mulai menggerayang, kami memutuskan kembali kepenginapan. Merasakan segarnya air tawar Pulau Derawan sambil menunggu hidangan makan malam disajikan. Kami memesan kerapu goreng dan kerapu saos tiram yang dihidangkan di pinggir pantai. Selesai mandi, hidangan sudah disiapkan. Kami bergegas menyantapnya, sungguh lezat terlebih lagi makan di tepian panti sambil melihat bintang malam dan sepoinya angin pantai. Sambil menikmati hidangan sesekali kami bergumam andai kami tinggal di sini.......Hidangan yang tak terlupakan...sungguh nikmat


Snorekling atau Wisata Kapal Kaca?
Keesokan harinya, sekitar jam 08.00 WITA kami memutuskan untuk snorekling dengan dipandu oleh guide yang profesional, dengan terlebih dahulu kami harus menyewa pakaian selam dan alat snorekling sekitar Rp50 ribu - Rp100 ribu untuk sepuasnya. Sebelum melakukan snorekling kami dibriefing terlebih dahulu tentang teknik dan keselamatannya. Tak sabar rasanya hati ini untuk segera menikmati wisata menyelam dipermukaan ini. Begitu semua peralatan kami pakai, kami siap untuk melakukan snorekling. Kuasa Ilahi.... betapa indahnya pemandangan dibawah laut sana. Air yang jernih membuat kami tidak menemukan hambatan untuk menikmati ikan kecil warna-warni berenang mendekati kami, terumbu karang yang menari-nari, dan sekumpulan cumi-cumi yang sangat indah. Berbagai jenis karang, berbagai jenis ikan, berbagai jenis biota laut memikat hati kami untuk berlama-lama menikmatinya. Sesekali kami menggapai ikan-ikan dan berdiri di atas terumbu karang yang sangat indah. Tiga jam kami melakukan snorekling ternyata tak terasa dan merasa masih sangat kurang puas., namun kami sudah mulai kedinginan dan akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan tersebut.



Bagi yang tidak dapat melakukan snorekling (tidak bisa berenang), wisata kapal kaca bisa menjadi laternatifnya. Meskipun tak seindah ketika kami bisa melihat dan menyentuh secara langsung ikan dan biota laut yang ada di bawah air, namun wisata kapal kaca juga sangat menyenangkan. Kita bisa melihat ikan dan biota laut lainnya dari dasar kapal yang terbuat dari kaca dengan cukup jelas.


Oleh-Oleh Khas Derawan?
Setelah kami selesai melakukan snorekling dan wisata kapal kaca, menjelang sore kami berjalan-jalan menyusuri pulau Derawan. Perjalanan diperlukan waktu kurang lebih 45 menit - 1 jam untuk mengelilingi derawan, sambil berkeliling kami mencari souvenir khas Derawan yaitu gelang dari kulit penyu, kerang yang sudah diolah sedemikian cantiknya atau penyu yang sudah diawetkan. Untuk gelang dari kulit penyu dihargai sekitar Rp15 ribu - 25 ribu, kerang sekitar Rp75 ribu - 150 ribu dan penyu yang diawetkan sekitar Rp200 ribu. Selain bermaksud mencari souvenir, kami juga berusaha mencari tempat penyu bertelur di dalam pasir. Biasanya tempat penyu bertelur diberi tanda berupa batang kayu yang ditancapkan. Namun 45 menit sudah kami lalui tidak juga ditemukan telur penyu tersebut. Kami belum beruntung.

Dua hari belum cukup rasanya, namun kami harus melakukan aktivitas lainnya lagi. see u next time derawan...